Senin, 21 Januari 2019

HABIB IDRUS AL- JUFRI DALAM KESULTANAN JAMBI


 HABIB IDRUS AL- JUFRI
DALAM KESULTANAN JAMBI



Diajukan Sebagai Tugas Akhir Semester 





Dosen Pengampu:
Prof.Dr.H. Muntholib, SM, MS
Dr.H. Martinis Yamin, M.Pd

Disusun oleh:
Sodiah, M.Pd.I


BAB I

PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang Masalah
Secara geografis Jambi memang memiliki nilai strategis di jantung alur pelayaran laut lokal, Nasional maupun Internasional karena kedekatan dengan selat Malaka yang menjembatani hubungan pelayaran dari belahan barat dan timur maupun utara dunia. Tak dapat di sangkal wilayah Jambi melalui pelabuhannya mendapat persentuhan budaya luar yang bersifat simboistis maupun alkulturasi.
Kesultanan Jambi adalah kerajaan Islam yang berkedudukan di provinsi Jambi sekarang. Kerajaan ini berbatasan dengan Kerajaan Indragiri dan kerajaan-kerajaan Minangkabau seperti Siguntur dan Lima Kota di utara. Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah Kerajaan Malayu, dan kemudian menjadi bagian dari Sriwijaya. Pada akhir abad ke-14 Jambi merupakan vasal Majapahitdan pengaruh Jawa masih terus mewarnai kesultanan Jambi selama abad ke-17 dan ke-18.
Berdirinya kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di wilayah itu. Pada tahun 1616 Jambi merupakan pelabuhan terkaya kedua di Sumatera setelah Aceh,dan pada 1670 kerajaan ini sebanding dengan tetangga-tetangganya seperti Johor dan Palembang. Namun kejayaan Jambi tidak berumur panjang. Tahun 1680-an Jambi kehilangan kedudukan sebagai pelabuhan lada utama, setelah perang dengan Johor dan konflik internal. Tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat, keturunan Sultan Thaha, sultan yang terakhir, menyerah kepada Belanda. Jambi digabungkan dengan keresidenan Palembang. Tahun 1906 kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Pengungkapan terhadap pembentukan dan perkembangan Kesultanan-kesultanan Islam di nusantara termasuk bidang kajian yang agak terlantar. Padahal, sejarah nusantara banyak ditemui oleh sejumlah kesultanan, baik besar atau kecil, yang mempengaruhi bentuk tadisi dan budaya Islam lokal. Selama ini, kalaupun ada penulisan sejarah kesultanan, temanya lebih banyak diisi oleh kisah jatuh bangun suatu kesultanan atau pergantian raja-raja, hanya sedikit kajian tentang sejarah kesultanan yang berbasis sosio-historis.[1] Memang harus diakui, bahwa sejarah kesultanan di Nusantara, dalam penilaian Vlekke, penuh ketegangan dan konflik. Salah satu faktor mudahnya Belanda menjajah Nusantara, bukan karena kekuatan militernya yang besar, tetapi karena kelemahan internal Kesultanan-kesultanan di nusantara yang sering saling berperang, intrik, dan berusaha saling menguasai.[2]    
Belanda kadang kala hanya “menonton” sambil menunggu atau seolah-olah bertindak sebagai “wasit” akan menyesaikan masalah, dan masuk pada saat yang tepat untuk kemudian menguasai. Satu persatu kesultanan Nusantara di kuasai, dan belanda mengambil keuntungan besar jalur perdangan yang selama ini di kuasai oleh kerajaan. Kesultanan yang terlalu keras memberikan perlawanan di ancam akan dihapuskan oleh Belanda.[3]
Berdasarkan “Seminar Masuknya Islam ke Jambi” yang diselenggarakan di Jambi pada tanggal 11 s/d 14 Oktober 1984 menyimpulkan bahwa Islam telah masuk ke Jambi pada abad 1 H. Berbagai alasan yang diketengahkan seminar yang diyakini dapat dipertanggungjawabkan berupa informasi yang diperoleh dari berbagai buku dan catatan yang ditulis para ahli sejarah antara lain sebagai berikut:
1.      Menurut penjelasan H. Agus Salim bahwa didasarkan bukti sejarah setidaknya orang Sumatera sudah dapat berkenalan dengan orang-orang Islam berbangsa Arab yang ada di Tiongkok, karena perjalanan laut dari Arab ke Tiongkok melalui Sumatera dan mesti disinggahi setidaknya untuk membeli perbekalan. Sedangkan hubungan dagang antara Arab dan Tiongkok tersebut, terjadi pada zaman kebesaran Khalifah dalam Abad II Hijriah.
2.      Drs. M. D. Masnur cs dalam bukunya “Sejarah Minang Kabau” menulis bahwa :
a.      Di dalam berita-berita Cina ada disebutkan “San Fo Tsi” sebagai Bandar yang sering dikunjungi oleh saudagar Cina dan Arab untuk membeli lada. Fonetis kata “San Fo Tsi” dekat sekali dengan bunyi kata Tembesi pusat penjualan lada Jambi yang terkenal ke seluruh dunia. Bandar utama dari kerajaan Sriwijaya yang pernah menguasai Jambi pada Abad VII-VIII M adalah Muara Sabak, yang dalam pemberitaan Cina disebut “Zabaq” dan Sriwijaya disebut “Cheli Poche”. Dalam Abad VII M, saudagar, nahkoda, dan pendeta Cina serta orang Arab telah sampai ke Minang Kabau Timur. Saudagar dan Nahkoda Arab datang dari Teluk Persia yang telah menganut Agama Islam telah sampai ke Minang Kabau Timur yang ketika itu masih menganut Agama Budha Hinayana. Saudagar Arab itu, di samping berdagang melakukan pula dakwah Islam sehingga anak negeri Melayu di Pantai yang disinggahi menganut Agama Islam.
b.      Mu’awiyah (661-630) menjadi khalifah pertama Bani Umayyah, berusaha keras menguasai perdagangan lada supaya supply komoditi dagang penting itu tidak terlampau tergantung pada China. Bandar-bandar perdagangan khalifah Umayyah di Teluk Persia telah mengadakan hubungan dagang dengan Minang Kabau Timur. Melalui perdagangan-perdagangan tersebut, Mu’awiyah mengirim surat kepada Raja Sriwijaya/Jambi, Sri Maharaja Lokitawarman (berkedudukan di Muara Sabak) mengajaknya masuk Islam dan mengadakan hubungan dagang langsung dengan Damsyik (Damaskus). Pengganti Maharaja Lokitawarman memeluk agama Islam.
c) Korespondensi antara raja Sriwijaya/Jambi dengan Khalifah Bani Umayyah Umar Bin A. Aziz (717-720 M), yang menurut sumber berada di Museum Spanyol di Madrid membuktikan bahwa Agama Islam telah masuk ke Bandar Utama Kerajaan Sriwijaya/Jambi, yaitu Muara Sabak sejak VII M. Dan pada permulaan abad VII M telah ada Raja Jambi (pengganti Maharaja Lokitawarman pada tahun 768 M) yang menganut Agama Islam. Setelah itu dakwah Islam terhenti dan akhirnya hilang lenyap akibat adanya counter action dari Cina yang merasa kepentingan ekonominya di Minang Kabau Timur terancam oleh Khalifah bani Umayyah.
3.      Prasasti penguasa Sriwijaya (Hindu) yang menguasai Jambi (Abad VII-VIII M) yang terdapat di Desa Karang Berahi (Kab. Merangin) tertulis tahun 692 Saka (770 M) berisi ancaman kepada penganut Islam yang dituduh menghilangkan beberapa buah patung yang menjadi pujaan Hindu dan di antaranya ada yang dipotong kepalanya.
Pada awalnya, pembentukan dan perkembangan suatu Kesultanan adalah kelanjutan dari proses islamisasi di Nusantara.[4] Dari aspek lain, Reid mengemukakan bahwa koversi masal penduduk Nusantara ke dalam Islam berbarengan dengan pertumbuhan “masa perdagangan” (the age of commerce). Saat itu memang kawasan Asia Tenggara tengah mengalami trade boom karena posisi strategis jalur perairan di Nusantara dalam bidang perdagangan, baik dengan sesama etnis Melayu maupun dengan pedagang-pedagang asing dari Eropa, Cina, Arab, dan India.[5]
Terlebih bagi suatu Kesultanan di Nusantara yang tidak terlalu besar, akan semakin sulit mengungkap sejarah dan perkembangannya, karena minimnya data-data, baik catatan lokal maupun pihak asing. Karena itu pulalah, studi tentang kesultanan di Jambi termasuk kajian yang agak terabaiakan. Padahal, menurut Azyrumardi Azra, Jambi termasuk salah satu wilayah di kepulauan Nusantara yang paling awal di singgahi oleh pedagang muslim dari Arab.[6]
Koneksi orang-orang Arab di Jambi perlu mendapatkan perhatian khusus. Masyarakat Arab di Jambi telah memainkan peran Politik di Kesultanan Jambi, setidaknya sejak 1812. Salah satunya yang sangat terkenal adalah keluarga Sayid Al-Jufri. Keluarga ini bergelar Sayid, yang datang dari Hadramaut, di yakini memiliki keterkaitan keluarga dengan anak dan cucu Nabi Muhammad.[7] Mereka di kenal terpelajar dan memiliki karakter moral yang tinggi, karena itu keturunan keluarga Al-Jufri pada umumnya memperoleh penghormatan di tengah masyarakat. Mereka sangat menjaga reputasi yang tinggi di tengah-tengah gelombang migrasi ekonomi perdagangan dari jazirah Arab ke Jambi sejak abad ke-18.[8]
Keluarga Al-Jufri sudah sampai ke Jambi. Sekitar tahun 1860-an, Sayid Idrus di kenal sebagai orang dengan kecerdasan yang mengagumkan dan penampilan menarik telah benyak di pengaruhi budaya melayu. Pada tahun 1879, Sayid Idrus telah berumur empat puluh tahun. Ia pernah di tunjuk sebagai utusan oleh Sultan Ahmad Nazaruddin ke Batavia pada tahun 1861. Karir politiknya cukup panjang, sampai ia wafat pada tahun 1905.[9]
Sebagai penghubung paling penting antara kesultanan dan otoritas belanda, Habib Idrus Al- Jufri atau Pangeran Wiro Kusumo segera meyakinkan Batavia akan niat baiknya. Pada tahun 1861 dua anaknya di suntik vaksin pencegah cacar, barangkali juga karena dia memandang hal itu sebagai tindakan kesehatan yang bermanfaat.[10]
Berdasarkan deskripsi di atas, penulis melihat begitu banyak benda peninggalan yang bernilai sejarah tinggi. Untuk mengungkap bagaimana kiprah habib Idrus pada masa kesultanan Jambi, maka penulis tertarik untuk mengapresiasikan masalah ini menjadi sebuah karya tulis berbentuk tesis yang berjudul : “PERANAN HABIB IDRUS AL- JUFRI PADA KESULTANAN JAMBI”.

BAB II
LANDASAN TEORI, MODEL TEORI/PEMIKIRAN,
DAN PENELITIAN YANG RELEVAN
1.     Biografi Habib Idrus Al-Jufri (Pengeran Wiro Kusumo)
Koneksi orang Arab di Jambi layak mendapat perhatian lebih dari yang di terimanya. Koloni Arab di Jambi memainkan peran politik dalam perlawanan terhadap otoritas Sulthan sejak tahun 1812. Apakah waktu itu keluarga Al-Jufri sudah menetap di Jambi tidak diketahui. Mereka termasuk dalam golongan Sayid, satu dari sembilan terpandang bangsawan agama di Hadramaut (daerah selatan Jazirah Arab) karena mereka bisa merunut silsilah mereka hingga putri dan menantu Nabi Muhammad SAW.
Melek huruf dan berkarakter moral tinggi tidak menyandang senjata dan tidak merokok atau berjudi mereka dihormati dimana-mana. Mereka memelihara status tinggi mereka disepanjang gelombang migrasi ekonomi dari Jazirah Arab sejak akhir abad kedelapan belas.[11] Bagi para penguasa lokal di nusantara, anak-anak keturunan Nabi itu, dengan pengetahuan bahasa suci mereka, adalah aset berharga, dan dengan suka hati memberikan putri-putri mereka untuk dinikahi. Karena wanita Arab tidak beremigrasi, laki-laki Arab menikahi wanita lokal atau wanita keturunan campuran, lebih disukai dengan putri-putri Sayid  dari kalangan kerajaan.
Oleh sebab itu Sulthan Siak punya leluhur Arab, sama seperti penguasa Kampar. Di kalimantan, Sulthan Pontianak dan Raja Kubu adalah keturunan Arab, terutama para Sayid, menjadi orang-orang yang  diperhitungkan di Hindia Timur. Dengan pembawaan santun dan kekayaan kosa-kata, boleh dikata mereka disuratkan menjalani kehidupan sebagai Diplomat regional. Mereka sering menjadi penghubung antara penguasa lokal dan otoritas kolonial Belanda disepanjang abad kesembilan belas.[12]
Di Jambi adalah Habib Idrus Al-Jufri masih kerabat Sayid Ali Al-jufri, keluarga emigran Al-Jufri di Sumatra yang datang dari Hadramaut wilayah tengah, menetap di Palembang, koloni Arab terkaya dan terbesar kedua di pulau itu (setelah Aceh), dengan populasi dua ribu jiwa pada tahun 1885. Walaupun pendatang baru, mereka termasuk dalam lingkaran terkaya di koloni Palembang itu. Keluarga mereka punya ikatan dengan daerah-daerah tetangga : Bendahara Patapahan di Siak adalah seorang Klan Al-Jufri (Sayid atau Mohammad bin ‘Aloui Al-Jufri), dan kerabat mereka adalah salah satu kelompok berpengaruh di singapura.[13]
Keluarga Al-Jufri sangat terpandang di Jambi. Pada tahun 1860-an, Habib Idrus atau Pangeran Wiro Kusumo menjadi juru bicara mereka, seorang pria dengan wajah lebih cerdas dari pada pembesar lainnya dan walaupun berpakaian Arab.
2.     Sosok Habib Idrus Al-Jufri (Pengeran Wiro Kusumo)
Sejarah Jambi dari pertengahan 1800an sampai bagian pertama 1900an, diisi dengan kegiatan dari keturunan Arab seperti Idrus (Sayyid Idrus bin Hasan Al Jufri, atau  Habib Idrus). Kakek Sayyid Idrus lahir sebagai seorang bangsa Arab tulen berasal dari semenanjung Arab dan telah bermigrasi ke Hindia Timur pada  akhir abad ke 18. Sayyid Idrus memiliki darah Jambi, karena ayahnya telah memperistri salah satu wanita dari kesultanan Jambi, dan nantinya diapun melakukan hal yang sama.

“Sultan Terakhir Jambi”
Mengenai tanggal lahir Sayyid ‘Idrus tidak diketahui pasti, namun dari dokumen Belanda (satu-satunya dokumen yang tersisa) diasumsikan bahwa beliau telah berumur 40 tahun pada tahun 1879.[14] Dokumen Belanda juga telah mencatat kematian beliau pada tahun 1905, meskipun tanda di depan makam beliau menunjukkan tahun 1902.
Sayyid Idrus merupakan salah satu “Al Jufri” keturunan Arab. Al Jufri merupakan bagian dari Sayyid, salah satu dari Sembilan keluarga yang dihormati sebagai golongan elit agama berasal dari Hadhramaut (bagian selatan Semenanjung Arab). Mereka dihormati karena merupakan keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Al Jufri tinggal di Jambi dan memainkan peranan politik, baik untuk dan melawan kekuasaan kesultanan sejak tahun 1812. Sayyid Idrus adalah sultan atau raja yang berkuasa di daerah itu pada dekade akhir abad ke-19 dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo.
Penguasa lokal, meliputi seluruh pulau-pulau yang kini diberi nama Indonesia mengagumi Al Jufri karena mereka merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dan berbahasa Arab yang dianggap orang Muslim suci. Menikahi putri Al Jufri membawa keuntungan politik dan finansial yang luar biasa. Al Jufri yang berada di Jambi selalu menikah dengan perempuan lokal, karena permpuan dari bangsa mereka tidak ikut bermigrasi. Hal ini menyebabkan para pria keturunan Al Jufri menikah dengan putrid Sultan dan penguasa yang berpengaruh.
1.     Peran Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo) sebagai Mediator
Dengan posisi Al Jufri yang belum disadari sebagai salah satu rakyat lokal, namun dikagumi dan dihormati, mereka sering menjadi penengah (mediator) antara penguasa local dan colonial belanda yang berkuasa pada abad ke-19. Anggota Al Jufri yang membawa peran sebagai mediator dan juru bicara untuk seluruh keturunan Al Jufri di Jambi adalah Sayyid Idrus. Dia mengisi posisi yang cukup unik ini dari tahun 1860an hingga dia meninggal pada tahun 1902/1905.
Disamping mengizinkan Sayyid Idrus menikah dengan putrinya, Sultan Nazaruddin memberikan Sayid Idrus gelar Pangeran Wirokusumo. Gelar ini juga digunakan pada tahun 1853 sebagai anggota “Kraton” (keluarga dari penguasa elit di istana Jambi) dan juga menandakan sebagai “pepati dalam”, pejabat tinggi pemerintah yang memiliki tugas menggantikan Sultan ketika tidak ada dan juga sekaligus sebagai pengawas istana.
Dokumen Belanda mencatat Pangeran Wiro Kusumo memiliki kejeniusan berlindung dari partai-partai yang kuat. Ketika Sultan Nazaruddin memegang kekuasaan formal, beliau berhasil membuat dirinya menjadi wakil Sultan di ibukota. Hal ini dikarenakan Sultan hampir selalu memilih untuk tinggal jauh dari ibukota (kota Jambi) untuk menjauhkan diri dari Belanda.
2.     Bukti Kekayaan dan Kekuatan Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo)
Evidence of Pangeran Wiro Kusumo’s Wealth and Power. Being married to one of Sultan Nazaruddin’s daughters brought him tremendous power. When Sultan Thaha expanded his influence in the last two decades of the 19th century, Pangeran Wiro Kusumo ingratiated himself with him. He even managed to become a relative of Sultan Thaha by marrying his son to Thaha’s daughter.
Ø  In 1875 Sultan Nazaruddin and the pangeran ratu [crown prince / prime minister] left this powerful dignitary [Pangeran Wiro Kusumo] to manage all the affairs of the realm.
Ø  He administered the salt monopoly revenue.
Ø  He administered the opium monopoly revenue.
Ø  He owned the largest lowland tracks of land (on the eastern part of the Jambi Province) and had control of the lower Batanghari River, all the way up to the Tungkal River.
Ø  He was very powerful, but a Sultan? Blogs repeat oral traditions as fact, indicating he was at one time a sultan. A local Jambi newspaper also reported the same (last sentence of this article) as recent as 8 September 2011. The opinion that he was a sultan just doesn’t stack up to documented evidence, like what can be found in the book; Mencari Jejak Sangkala, the author being the honorable Jambi historian, Drs. H. Junaidi T. Noor. Nor does it hold water when compared to the scholarly and thoroughly documented book; Sumatran Sultanate and Colonial State. Quite to the contrary, though he was an adviser to sultans, Pangeran Wiro Kusumo himself was never a Sultan.
Ø  Another act attributed to Pangeran Wiro Kusumo, which needs further proof, was him building the Mosque Jami’ Al Ikhsaniyah. His commitment to his religion is not in question, but for him to receive credit for building this mosque would indicate he did it before his birth or shortly thereafter.[15]

Dokumen Belanda mencatat Pangeran Wirokusumo memiliki kejeniusan berlindung dari partai-partai yang kuat. Ketika Sultan Nazaruddin memegang kekuasaan formal, beliau berhasil membuat dirinya menjadi wakil Sultan di ibukota. Hal ini dikarenakan Sultan hampir selalu memilih untuk tinggal jauh dari ibukota (kota Jambi) untuk menjauhkan diri dari Belanda.
Menikah dengan salah satu putri Sultan Nazaruddin membawa Pangeran Wirokusumo kepada kekuasaan yang luar biasa. Ketika Sultan Thaha memperluas pengaruhnya pada 2 (dua) dekade terakhir di abad 19. Pangeran Wirokusumo mengambil hati Sultan Thaha. Dia bahkan berhasil menjadi keluarga Sultan Thaha dengan cara menikahi putrinya dengan Sultan Thaha.
Pada tahun 1875 Sultan Nazaruddin dan Pangeran Ratu (putra mahkota/perdana menteri) meninggalkan kekuasaannya kepada pejabat tinggi pemerintahan (pangeran wirokusumo) untuk mengatur dan mengurus semua urusan kerajaan.
a.     Dia mengatur pendapatan monopoli garam
b.     Dia mengatur pendapatan monopoli candu
c.     Dia memiliki dataran rendah yang luas (di sebelah timur provinsi jambi)
d.     Dia mendirikan Masjid Jami Al Ikhsaniyah
3.     Rumah Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo)
Rumah Sayyid Idrus, yang dikenal sebagai Pangeran Wirokusumo berlokasi di sisi utara Sungai Batanghari di Kota Jambi. Rumah tersebut telah didaftar oleh Kantor Pariwisata Jambi sebagai tempat wisata, namun situs wisata tersebut hanya sebagai referensi bagi observasi sejarah, tidak dirancang khusus untuk rekreasi. Tanda di depan rumah merupakan nama situs ini, yaitu Rumah Batu Olak Kemang.
Rumah batu Olak Kemang miliki Habib Idrus Al-Jufri, tampak dari samping.

Petugas jaga Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi membersihkan tanaman di sekitar Rumah Batu Pangeran Wiro Kusumo (Sayid Idrus bin Hasan Al-Jufri) di Olak Kemang, Danau Teluk, Jambi, Selasa (21/10). Kondisi bangunan rumah dua lantai dengan arsitektur Arab, Tiongkok dan Eropa peningggalan salah seorang penyebar agama Islam sekitar tahun 1850-an di kawasan tersebut terancam rubuh karena faktor alam seperti hujan. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/Rei/ama/14

Rumah batu Olak Kemang miliki Habib Idrus Al-Jufri, bagian  gerbang.

Rumah batu Olak Kemang miliki Habib Idrus Al-Jufri, rumah panggung bukti gaya arsitek lokal (melayu)
Bentuk tiang penyangga rumah batu Olak Kemang miliki Habib Idrus Al-Jufri bukti gaya arsitek Eropa
Bentuk relief rumah batu Olak Kemang miliki Habib Idrus Al-Jufri, bukti gaya arsitek Cina
Rumah Batu Olak Kemang di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Seberang Kota Jambi (Sekoja), Kota Jambi, kini terkesan tak terawat. Padahal bangunan ini menyimpan sejarah penting Kota Jambi. Bangunan berlantai dua ini merupakan cagar budaya Kota Jambi, peninggalan seorang penyebar agama Islam di Sekoja pada abad ke-18, Sayyid Idrus Hasan Al-Jufri, atau Pangeran Wiro Kusumo.
4.     Makam Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo)
Pangeran Wiro Kusumo (Sayyid Idrus) dimakamkan dekat dengan tempat ia tinggal, berada dalam komplek masjid Jami Al Ikhsaniyah. Makam tersebut sangat ramai dikunjungi jelang Ramadhan. Makam itu berada dalam sebuah ruangan. Di dalamya terdapat dua makam lain selain makam Sayyid Idrus, yaitu makam anak cucunya yang tidak diketahui siapa namanya. Dalam rangka menjaga makan dan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, saat ini makam Sayyid Idrus dikunci dengan gembok. Makam itu dapat dibuka bila ada yang mengunjungi.
Tanda yang melekat pada bangunan kecil dimana makamnya berada menunjukkan bahwa beliau meninggal pada tahun 1902. Dokumen sejarah, “Kesultanan Sumatra dan Pendudukan Kolonial: Jambi dan kebangkitan imperialism Belanda, 1830-1907” menunjukkan bahwa Pangeran Wiro Kusumo wafat pada tahun 1905.

5.     Kegiatan ritual Haul Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo)
Berdasarkan data dari TRIBUNJAMBI.COM. Pada hari ini, Sabtu, 22 Januari 2011 10:28, keluarga besar Habib Idrus bin Hasan Al Jufri akan memperingati wafatnya (haul) ke 108 ulama dan pemimpin Jambi, Habib Idrus bin Hasan Al- Jufri yang dipusatkan di Masjid Ihsaniyah di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi.
Acara ini mendapat perhatian banyak pihak, karena ketokohan Habib Idrus bin Hasan Aljufri yang fenomenal. Puncaknya acara akan dilaksanakan di Masjid Ihsaniyah mengingat di sini ada makam Habib Idrus atau Pengeran Wiro Kusumo.
Abu bakar Al-Jufri, Ketua Panitia acara Haul ke 108 Habib Idrus bin Hasan Al-jufri mengatakan bahwa pada Jumat malam sedang dilakukan persiapan fasilitas dan kelengkapan untuk acara pada hari sabtu. Sebelum acara inti, terlebih dahulu dilakukan  kegiatan tausyiah di daerah Kampung Jawa, Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk.
Sebelum ke acara puncak yang diadakan di Masjid "Batu" Ihsaniyah, rombongan para tokoh agama, alim ulama, cendikiawan, gubernur dan undangan lainnya mampir ke rumah batu atau Rumah Radjo di kediaman Habib Salim bin Abubakar Almuhdot di Olak Kemang.

3.     Masjid Batu Al-Ikhsaniyah, Masjid Tertua di Jambi
Masjid al-Ikhsaniyah atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama Masjid Batu adalah Masjid tertua di kota Jambi, Provinsi Jambi. Masjid ini terletak di seberang Kota Jambi yang dibelah sungai Batanghari, tepatnya Masjid ini berada di Jalan KH. Ibrahim, RT 05 Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi. Bangunan masjid ini telah mengalami perluasan oleh pemerintah Belanda semasa penjajahan dengan mempertahankan ciri ciri khas utamanya demi menjaga nilai historis-nya.
Lokasi Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi:
Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah
Jalan KH. Ibrahim, RT 05
Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk
Kota Jambi, Propinsi Jambi
Indonesia
Koordinat geografi berada di : 1°35'7"S   103°36'8"E
 







Masjid ini didirikan pada tahun 1880 oleh Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid Idrus, seorang tokoh penyebar Islam di Jambi dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo, beliau merupakan seorang ulama keturunan Yaman. Masjid Batu ini didirikan Sayyid Idrus untuk memenuhi fungsi tempat ibadah bagi masyarakat seberang kota Jambi. Masyarakat kota Jambi waktu itu yang sudah fanatik keislamannya memanfaatkannya sebagai tempat ibadah dan kegiatan sosial lainnya.
Habib Idrus bin Hasan Al Jufri wafat tahun 1902 dan dimakamkan di depan masjid Ikhsaniyah yang didirikannya. Kini sekali dalam setahun keluarga besar beliau menyelenggarakan peringatan wafatnya Habib Idrus bin Hasan Al Jufri yang dipusatkan di masjid ini. peringatan tersebut di agendakan sekali dalam setahun, oleh pihak keluarga dan masyarakat muslim Sekoja (seberang kota Jambi) sebagai bentuk penghormatan atas jasa jasa beliau. Peringatan tersebut setiap tahun turut juga dihadiri oleh tokoh agama, alim ulama, cendikiawan, gubernur dan undangan lainnya.
Pada tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan keislaman di Jambi yang ditandai dengan berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Saadad Daarain, Pesantren Jauharain, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat kesadaran keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan seberang kota Jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar.
Keadaan ini tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah masjid itu semakin penuh hingga akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak, terlebih pada Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh masyarakat lalu menggelar musyawarah dan bermufakat untuk memperbaharui masjid. Disepakati dana pembangunan masjid dikumpulkan dari sedekah dan infaq masyarakat sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk memugar masjid. Saat itu tahun menunjukkan angka 1935.
Karena berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda. para tokoh masyarakat meminta izin kepada Belanda. lalu masuklah permohonan pemugaran masjid ke pemerintah Belanda yang ada di Jambi dengan menceritakan latar belakang dan sejarah berdirinya masjid.
Tahulah Belanda bahwa Masjid Batu tersebut merupakan peninggalan Sayyid Idrus yang merupakan salah seorang sultan Jambi yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo. Karena menganggap bahwa masjid tersebut bernilai sejarah sebagai masjid sultan, tahun 1937 pihak kolonial mengambil alih pembangunan masjid. Dana pun turun dari pihak kolonial dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya para tokoh masyarakat hanya perlu izin karena dana sudah tersedia. Jadilah dana dari masyarakat itu tidak terpakai yang akhirnya digunakan untuk membuat pagar mengelilingi masjid.
a.     Sejarah berdirinya masjid Ikhsaniyyah
Untuk mengetahui sejarah berdirinya Masjid Al Ikhsaniyah, salah satunya diketahui dari keturunan Sayyid Idrus, yaitu S. Salim Al-Jufri yang merupakan generasi ke-7. Pengurus Masjid Al Ikhsaniyah dan pengurus makam Sayyid Idrus adalah orang yang berbeda. Pengurus mesjid dipilih berdasarkan musyawarah warga, sedangkan makam berdasarkan keturunan atau ahli waris. Di mana pengurus makam Sayyid Idrus merupakan Juru Pelihara dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi.
Berasal dari cerita turun menurun oleh orang-orang tua di keluarga Salim, tanah Sayyid Idrus ada di Benteng yang sekarang menjadi Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Dari sanalah asal mula masjid tersebut. Saat itu Belanda mendirikan Lapangan Benteng di sana, sehingga masjid dirobohkan. Kemudian bahan atau sisa-sisa bangunan mesjid dibawa ke Pacinan (sekarang Olak Kemang) yang menjadi asal muasal berdirinya Masjid Al-Ikhsaniyah. “Atas inisiatif Sayyid Idrus lah mesjid ini berdiri di sini. Karena pada saat itu Sayyid idrus adalah seorang Sultan.
Setelah jamaah yang datang semakin ramai akibat pesatnya perkembangan umat Islam saat itu, maka pada 1937 direncanakan pembaruan mesjid yang didirikan oleh Sultan Idrus. Karena dianggap masjid Sultan dan mempunyai nilai sejarah, pemerintah Belanda yang berkuasa saat itu membantu pembangunan masjid itu. Dengan kemufakatan ulama, maka masjid tersebut dinamakan Masjid Al Ikhsaniyah. Pada gapura masjid tercantum dengan jelas saat selesainya masjid tersebut yakni 27 Mei 1939.
Saat ini, di dalam masjid masih terdapat sebuah mimbar dan beduk yang merupakan peninggalan terdahulu. Selain itu, makam Sayyid Idrus yang wafat pada 1902 M juga masih ada dan terawat di lingkungan masjid.
Masjid sebelum dilakukan pemugaran

Masjid setelah diperbaiki
b.     Ciri khas Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi:
1)    Bangunan dalam Masjid dipenuhi dengan hiasan kaligrafi berbagai rupa. Mimbar asli berdiri anggun di sisi kanan mihrab. Sementara beduk peninggalan terdahulu berada di bagian belakang ruang salat. Ciri mencolok dari Mesjid ini adalah banyaknya jendela. Jendela-jendela yang dipasang berpasangan itu mengelilingi Mesjid. Hanya tembok mihrab yang tak berjendela.
2)    Hingga kini, kebisaaan dan adat istiadat yang dilakukan Pangeran Wiro Kusumo semasa hidup masih dilakukan keturunan dan pengikutnya. Salah satunya adalah menyantap makan dalam tempeh (wadah besar)  ramai-ramai. Tradisi seperti itu memang merupakan salah satu tradisi para ulama yang berasal dari Yaman yang kemudian berkembang di tanah air. Tadisi yang sama dapat juga dijumpai di masjid-masjid tua lainnya di tanah air seperti di Masjid Sultan Palembang ataupun Masjid Al-Hawi di Condet – Jakarta.
3)    Tradisi Sumpah di Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi. Sekitar tahun 60-an, Masjid Ikhsaniyah merupakan tempat orang menyelesaikan sengketa. Jika ada orang berselisih perihal kepemilikan tanah, tuduhan mencuri, dan lain sebagainya orang akan membawa perkara itu ke Mesjid dan mengambil sumpah dengan disaksikan para pendudk dan pemuka agama.
Masjid ini diyakini memiliki keramat tersendiri karena jika ada yang berani bersumpah palsu di dalamnya, maka dia akan mengalami bala atau hal lainnya. Karenanyalah, pada masa itu Mesjid Batu amat masyhur dan tak ada seorang pun yang berani mengambil risiko bersumpah palsu di dalamnya. Banyak orang-orang yang berdusta yang awalnya berani bersumpah di dalamnya. Namun, setelah sampai mereka tak berani dan mengakui perbuatannya. Jika ada yang bersalah dan tak mengakui perbuatannya sampai diambil sumpahnya, orang itu akan menggelepar tak sadarkan diri. Dan jika ia sudah sadar biasanya orang yang bersalah itu akan mengakui perbuatannya.
4)    Di tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan keislaman di Jambi yang ditandai dengan berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Saadatuddarein, Pesantren Jauharein, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat kesadaran keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan seberang kota Jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar.
Keadaan ini tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah Masjid itu semakin penuh hingga akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak, terlebih pada Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh masyarakat lalu menggelar musyawarah dan bermufakat untuk memperbaharui Mesjid. Disepakati dana pembangunan Mesjid dikumpulkan dari sedekah dan infaq masyarakat sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk memugar Mesjid pad tahun 1935.



[1] Kesultanan Jambi Dalam Konteks Sejarah Nusantara, (Kerjasama Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Diklat kementerian Agama RI dengan Fakultas Adab IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Tahun 2013), hal. 3
[2] Kesultanan Jambi Dalam Konteks Sejarah Nusantara, (Kerjasama Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Fakultas Adab IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Tahun 2013), hal. 3
[3] Benard H. M Vlekke, Nusantara Sejarah Nusantara (Jakarta: KPG, Freedom Institute, dan Balai Pustaka, 2008), hal. 183
[4] Azyrumardi Azra, “tradisi Politik Kesultanan Melayu Nusantara”, dalam bukunya, Reanisans Islam Asia Tenggara: Sejarah, Wacana Kekuasaan (Bandung: Rosda Karya, 1999), hal. 89
[5] Antony Reid, Dari Ekspanasi Hingga Krisis: Jaringan Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680 (Jakarta: YOI, 1999), hal. 179
[6] Azyrumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan kepulauan Nusantara Abad XVIII: Melacak Aka-akar Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia (Bandung: Mizan, 1994), hal. 42
[7] Kesultanan Jambi Dalam Konteks Sejarah Nusantara, (Kerjasama Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Fakultas Adab IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Tahun 2013), hal. 115
[8] Elbeth Locher-Scholten, “Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial, Hubungan Jambi-Batavia (1830-1907) dan Bangkitnya Imperialisme Belanda, (Jakarta: banana 2008), hal. 164
[9] Kesultanan jambi Dalam Konteks Sejarah Nusantara, (Kerjasam Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Fakultas Adab IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Tahun 2013),  hal. 117.
[10] Elsbeth Locher-scholten, Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial. (Jakarta: Banana, 2008),  hal. 166
[11] Elsbeth Locher-scholten, Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial. (Jakarta: Banana, 2008),  hal. 164
[12] L. W. C. Van Den Berg, Le Hadramouth Et Les Colonies Arabes Dans I’archipel Indien (Batavia Imprimerie Du gouvernement, 1886), yang di kutip oleh Elbeth, hal. 164
[13] Elsbeth Locher-scholten, Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial. (Jakarta: Banana, 2008),  hal. 164
[14] Elsbeth Locher-scholten, Kesultanan Sumatra dan Negara Kolonial. (Jakarta: Banana, 2008),  hal. 164


Tidak ada komentar:

Posting Komentar