HABIB
IDRUS AL- JUFRI
DALAM KESULTANAN
JAMBI
Diajukan
Sebagai Tugas Akhir Semester

Dosen
Pengampu:
Prof.Dr.H.
Muntholib, SM, MS
Dr.H.
Martinis Yamin, M.Pd
Disusun
oleh:
Sodiah,
M.Pd.I
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Secara geografis Jambi memang memiliki nilai strategis di jantung
alur pelayaran laut lokal, Nasional maupun Internasional karena kedekatan
dengan selat Malaka yang menjembatani hubungan pelayaran dari belahan barat dan
timur maupun utara dunia. Tak dapat di sangkal wilayah Jambi melalui
pelabuhannya mendapat persentuhan budaya luar yang bersifat simboistis maupun
alkulturasi.
Kesultanan Jambi adalah
kerajaan Islam yang berkedudukan di provinsi Jambi sekarang. Kerajaan ini
berbatasan dengan Kerajaan Indragiri dan kerajaan-kerajaan Minangkabau seperti
Siguntur dan Lima Kota di utara. Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah
Kerajaan Malayu, dan kemudian menjadi bagian dari Sriwijaya. Pada akhir abad
ke-14 Jambi merupakan vasal Majapahitdan pengaruh Jawa masih terus mewarnai kesultanan
Jambi selama abad ke-17 dan ke-18.
Berdirinya kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di
wilayah itu. Pada tahun 1616 Jambi merupakan pelabuhan terkaya kedua di
Sumatera setelah Aceh,dan pada 1670 kerajaan ini sebanding dengan tetangga-tetangganya
seperti Johor dan Palembang. Namun kejayaan Jambi tidak berumur panjang. Tahun
1680-an Jambi kehilangan kedudukan sebagai pelabuhan lada utama, setelah perang
dengan Johor dan konflik internal. Tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat,
keturunan Sultan Thaha, sultan yang terakhir, menyerah kepada Belanda. Jambi
digabungkan dengan keresidenan Palembang. Tahun 1906 kesultanan Jambi resmi
dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Pengungkapan
terhadap pembentukan dan perkembangan Kesultanan-kesultanan Islam di nusantara
termasuk bidang kajian yang agak terlantar. Padahal, sejarah nusantara banyak
ditemui oleh sejumlah kesultanan, baik besar atau kecil, yang mempengaruhi
bentuk tadisi dan budaya Islam lokal. Selama ini, kalaupun ada penulisan
sejarah kesultanan, temanya lebih banyak diisi oleh kisah jatuh bangun suatu
kesultanan atau pergantian raja-raja, hanya sedikit kajian tentang sejarah
kesultanan yang berbasis sosio-historis.[1] Memang
harus diakui, bahwa sejarah kesultanan di Nusantara, dalam penilaian Vlekke, penuh
ketegangan dan konflik. Salah satu faktor mudahnya Belanda menjajah Nusantara,
bukan karena kekuatan militernya yang besar, tetapi karena kelemahan internal
Kesultanan-kesultanan di nusantara yang sering saling berperang, intrik, dan
berusaha saling menguasai.[2]
Belanda kadang
kala hanya “menonton” sambil menunggu atau seolah-olah bertindak sebagai “wasit” akan menyesaikan masalah, dan
masuk pada saat yang tepat untuk kemudian menguasai. Satu persatu kesultanan
Nusantara di kuasai, dan belanda mengambil keuntungan besar jalur perdangan
yang selama ini di kuasai oleh kerajaan. Kesultanan yang terlalu keras
memberikan perlawanan di ancam akan dihapuskan oleh Belanda.[3]
Berdasarkan
“Seminar Masuknya Islam ke Jambi” yang diselenggarakan di Jambi pada tanggal 11
s/d 14 Oktober 1984 menyimpulkan bahwa Islam telah masuk ke Jambi pada abad 1
H. Berbagai alasan yang diketengahkan seminar yang diyakini dapat
dipertanggungjawabkan berupa informasi yang diperoleh dari berbagai buku dan
catatan yang ditulis para ahli sejarah antara lain sebagai berikut:
1.
Menurut penjelasan H. Agus Salim bahwa didasarkan bukti
sejarah setidaknya orang Sumatera sudah dapat berkenalan dengan orang-orang
Islam berbangsa Arab yang ada di Tiongkok, karena perjalanan laut dari Arab ke
Tiongkok melalui Sumatera dan mesti disinggahi setidaknya untuk membeli
perbekalan. Sedangkan hubungan dagang antara Arab dan Tiongkok tersebut,
terjadi pada zaman kebesaran Khalifah dalam Abad II Hijriah.
2.
Drs. M. D. Masnur cs dalam bukunya “Sejarah Minang Kabau”
menulis bahwa :
a.
Di dalam berita-berita Cina ada disebutkan “San Fo Tsi”
sebagai Bandar yang sering dikunjungi oleh saudagar Cina dan Arab untuk membeli
lada. Fonetis kata “San Fo Tsi” dekat sekali dengan bunyi kata Tembesi pusat
penjualan lada Jambi yang terkenal ke seluruh dunia. Bandar utama dari kerajaan
Sriwijaya yang pernah menguasai Jambi pada Abad VII-VIII M adalah Muara Sabak,
yang dalam pemberitaan Cina disebut “Zabaq” dan Sriwijaya disebut “Cheli
Poche”. Dalam Abad VII M, saudagar, nahkoda, dan pendeta Cina serta orang Arab
telah sampai ke Minang Kabau Timur. Saudagar dan Nahkoda Arab datang dari Teluk
Persia yang telah menganut Agama Islam telah sampai ke Minang Kabau Timur yang
ketika itu masih menganut Agama Budha Hinayana. Saudagar Arab itu, di samping
berdagang melakukan pula dakwah Islam sehingga anak negeri Melayu di Pantai
yang disinggahi menganut Agama Islam.
b.
Mu’awiyah (661-630) menjadi khalifah pertama Bani Umayyah,
berusaha keras menguasai perdagangan lada supaya supply komoditi dagang penting
itu tidak terlampau tergantung pada China. Bandar-bandar perdagangan khalifah
Umayyah di Teluk Persia telah mengadakan hubungan dagang dengan Minang Kabau
Timur. Melalui perdagangan-perdagangan tersebut, Mu’awiyah mengirim surat
kepada Raja Sriwijaya/Jambi, Sri Maharaja Lokitawarman (berkedudukan di Muara
Sabak) mengajaknya masuk Islam dan mengadakan hubungan dagang langsung dengan
Damsyik (Damaskus). Pengganti Maharaja Lokitawarman memeluk agama Islam.
c) Korespondensi antara raja Sriwijaya/Jambi dengan Khalifah Bani Umayyah Umar Bin A. Aziz (717-720 M), yang menurut sumber berada di Museum Spanyol di Madrid membuktikan bahwa Agama Islam telah masuk ke Bandar Utama Kerajaan Sriwijaya/Jambi, yaitu Muara Sabak sejak VII M. Dan pada permulaan abad VII M telah ada Raja Jambi (pengganti Maharaja Lokitawarman pada tahun 768 M) yang menganut Agama Islam. Setelah itu dakwah Islam terhenti dan akhirnya hilang lenyap akibat adanya counter action dari Cina yang merasa kepentingan ekonominya di Minang Kabau Timur terancam oleh Khalifah bani Umayyah.
c) Korespondensi antara raja Sriwijaya/Jambi dengan Khalifah Bani Umayyah Umar Bin A. Aziz (717-720 M), yang menurut sumber berada di Museum Spanyol di Madrid membuktikan bahwa Agama Islam telah masuk ke Bandar Utama Kerajaan Sriwijaya/Jambi, yaitu Muara Sabak sejak VII M. Dan pada permulaan abad VII M telah ada Raja Jambi (pengganti Maharaja Lokitawarman pada tahun 768 M) yang menganut Agama Islam. Setelah itu dakwah Islam terhenti dan akhirnya hilang lenyap akibat adanya counter action dari Cina yang merasa kepentingan ekonominya di Minang Kabau Timur terancam oleh Khalifah bani Umayyah.
3.
Prasasti penguasa Sriwijaya (Hindu) yang menguasai Jambi
(Abad VII-VIII M) yang terdapat di Desa Karang Berahi (Kab. Merangin) tertulis
tahun 692 Saka (770 M) berisi ancaman kepada penganut Islam yang dituduh
menghilangkan beberapa buah patung yang menjadi pujaan Hindu dan di antaranya
ada yang dipotong kepalanya.
Pada awalnya,
pembentukan dan perkembangan suatu Kesultanan adalah kelanjutan dari proses
islamisasi di Nusantara.[4] Dari
aspek lain, Reid mengemukakan bahwa koversi masal penduduk Nusantara ke dalam Islam
berbarengan dengan pertumbuhan “masa
perdagangan” (the age of commerce).
Saat itu memang kawasan Asia Tenggara tengah mengalami trade boom karena posisi strategis jalur perairan di Nusantara
dalam bidang perdagangan, baik dengan sesama etnis Melayu maupun dengan
pedagang-pedagang asing dari Eropa, Cina, Arab, dan India.[5]
Terlebih bagi
suatu Kesultanan di Nusantara yang tidak terlalu besar, akan semakin sulit
mengungkap sejarah dan perkembangannya, karena minimnya data-data, baik catatan
lokal maupun pihak asing. Karena itu pulalah, studi tentang kesultanan di Jambi
termasuk kajian yang agak terabaiakan. Padahal, menurut Azyrumardi Azra, Jambi
termasuk salah satu wilayah di kepulauan Nusantara yang paling awal di singgahi
oleh pedagang muslim dari Arab.[6]
Koneksi
orang-orang Arab di Jambi perlu mendapatkan perhatian khusus. Masyarakat Arab
di Jambi telah memainkan peran Politik di Kesultanan Jambi, setidaknya sejak
1812. Salah satunya yang sangat terkenal adalah keluarga Sayid Al-Jufri.
Keluarga ini bergelar Sayid, yang
datang dari Hadramaut, di yakini memiliki keterkaitan keluarga dengan anak dan
cucu Nabi Muhammad.[7]
Mereka di kenal terpelajar dan memiliki karakter moral yang tinggi, karena itu
keturunan keluarga Al-Jufri pada umumnya memperoleh penghormatan di tengah
masyarakat. Mereka sangat menjaga reputasi yang tinggi di tengah-tengah
gelombang migrasi ekonomi perdagangan dari jazirah Arab ke Jambi sejak abad
ke-18.[8]
Keluarga Al-Jufri sudah sampai ke Jambi.
Sekitar tahun 1860-an, Sayid Idrus di kenal sebagai orang dengan kecerdasan yang mengagumkan
dan penampilan menarik telah benyak di pengaruhi budaya melayu. Pada tahun
1879, Sayid Idrus telah berumur empat puluh tahun. Ia pernah di tunjuk sebagai
utusan oleh Sultan Ahmad Nazaruddin ke Batavia pada tahun 1861. Karir politiknya
cukup panjang, sampai ia wafat pada tahun 1905.[9]
Sebagai penghubung paling penting antara
kesultanan dan otoritas belanda, Habib Idrus Al- Jufri atau Pangeran Wiro Kusumo segera
meyakinkan Batavia akan niat baiknya. Pada tahun 1861 dua anaknya di suntik
vaksin pencegah cacar, barangkali juga karena dia memandang hal itu sebagai
tindakan kesehatan yang bermanfaat.[10]
Berdasarkan
deskripsi di atas, penulis melihat begitu banyak benda peninggalan yang
bernilai sejarah tinggi. Untuk mengungkap bagaimana kiprah habib Idrus pada
masa kesultanan Jambi, maka penulis tertarik untuk mengapresiasikan masalah ini
menjadi sebuah karya tulis berbentuk tesis yang berjudul : “PERANAN HABIB IDRUS AL- JUFRI PADA KESULTANAN
JAMBI”.
BAB II
LANDASAN TEORI, MODEL TEORI/PEMIKIRAN,
DAN PENELITIAN YANG RELEVAN
1. Biografi
Habib Idrus Al-Jufri (Pengeran Wiro Kusumo)
Koneksi orang Arab di Jambi layak
mendapat perhatian lebih dari yang di terimanya. Koloni Arab di Jambi memainkan
peran politik dalam perlawanan terhadap otoritas Sulthan sejak tahun 1812.
Apakah waktu itu keluarga Al-Jufri sudah menetap di Jambi tidak
diketahui. Mereka termasuk dalam golongan Sayid,
satu dari sembilan terpandang bangsawan agama di Hadramaut (daerah selatan
Jazirah Arab) karena mereka bisa merunut silsilah mereka hingga putri dan
menantu Nabi Muhammad SAW.
Melek huruf dan berkarakter moral
tinggi tidak menyandang senjata dan tidak merokok atau berjudi mereka dihormati
dimana-mana. Mereka memelihara status tinggi mereka disepanjang gelombang
migrasi ekonomi dari Jazirah Arab sejak akhir abad kedelapan belas.[11] Bagi
para penguasa lokal di nusantara, anak-anak keturunan Nabi itu, dengan
pengetahuan bahasa suci mereka, adalah aset berharga, dan dengan suka hati
memberikan putri-putri mereka untuk dinikahi. Karena wanita Arab tidak
beremigrasi, laki-laki Arab menikahi wanita lokal atau wanita keturunan
campuran, lebih disukai dengan putri-putri Sayid
dari kalangan kerajaan.
Oleh sebab itu Sulthan Siak punya
leluhur Arab, sama seperti penguasa Kampar. Di kalimantan, Sulthan Pontianak
dan Raja Kubu adalah keturunan Arab, terutama para Sayid, menjadi orang-orang yang diperhitungkan di Hindia Timur. Dengan
pembawaan santun dan kekayaan kosa-kata, boleh dikata mereka disuratkan
menjalani kehidupan sebagai Diplomat regional. Mereka sering menjadi penghubung
antara penguasa lokal dan otoritas kolonial Belanda disepanjang abad kesembilan
belas.[12]
Di Jambi adalah Habib Idrus Al-Jufri masih kerabat Sayid Ali
Al-jufri, keluarga emigran Al-Jufri di Sumatra yang datang dari Hadramaut
wilayah tengah, menetap di Palembang, koloni Arab terkaya dan terbesar kedua di
pulau itu (setelah Aceh), dengan populasi dua ribu jiwa pada tahun 1885.
Walaupun pendatang baru, mereka termasuk dalam lingkaran terkaya di koloni Palembang
itu. Keluarga mereka punya ikatan dengan daerah-daerah tetangga : Bendahara
Patapahan di Siak adalah seorang Klan Al-Jufri (Sayid atau Mohammad bin ‘Aloui
Al-Jufri), dan kerabat mereka adalah salah satu kelompok berpengaruh di
singapura.[13]
Keluarga
Al-Jufri sangat terpandang di Jambi. Pada tahun 1860-an, Habib Idrus atau
Pangeran Wiro Kusumo
menjadi juru bicara mereka, seorang pria dengan wajah lebih cerdas dari pada
pembesar lainnya dan walaupun berpakaian Arab.
2. Sosok Habib Idrus Al-Jufri (Pengeran Wiro Kusumo)
Sejarah Jambi
dari pertengahan 1800an sampai bagian pertama 1900an, diisi dengan kegiatan
dari keturunan Arab seperti Idrus (Sayyid Idrus bin Hasan Al Jufri, atau Habib Idrus). Kakek Sayyid Idrus lahir
sebagai seorang bangsa Arab tulen berasal dari semenanjung Arab dan telah
bermigrasi ke Hindia Timur pada akhir
abad ke 18. Sayyid Idrus memiliki darah Jambi, karena ayahnya telah memperistri
salah satu wanita dari kesultanan Jambi, dan nantinya diapun melakukan hal yang
sama.
“Sultan Terakhir Jambi”
Mengenai tanggal
lahir Sayyid ‘Idrus tidak diketahui pasti, namun dari dokumen Belanda
(satu-satunya dokumen yang tersisa) diasumsikan bahwa beliau telah berumur 40
tahun pada tahun 1879.[14]
Dokumen Belanda juga telah mencatat kematian beliau pada tahun 1905, meskipun
tanda di depan makam beliau menunjukkan tahun 1902.
Sayyid Idrus
merupakan salah satu “Al Jufri” keturunan Arab. Al Jufri merupakan bagian dari
Sayyid, salah satu dari Sembilan keluarga yang dihormati sebagai golongan elit
agama berasal dari Hadhramaut (bagian selatan Semenanjung Arab). Mereka
dihormati karena merupakan keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Al Jufri tinggal
di Jambi dan memainkan peranan politik, baik untuk dan melawan kekuasaan
kesultanan sejak tahun 1812. Sayyid
Idrus adalah sultan atau raja yang berkuasa di daerah itu pada dekade akhir
abad ke-19 dengan gelar Pangeran
Wiro Kusumo.
Penguasa lokal,
meliputi seluruh pulau-pulau yang kini diberi nama Indonesia mengagumi Al Jufri
karena mereka merupakan keturunan Nabi Muhammad SAW dan berbahasa Arab yang
dianggap orang Muslim suci. Menikahi putri Al Jufri membawa keuntungan politik
dan finansial yang luar biasa. Al Jufri yang berada di Jambi selalu menikah
dengan perempuan lokal, karena permpuan dari bangsa mereka tidak ikut
bermigrasi. Hal ini menyebabkan para pria keturunan Al Jufri menikah dengan
putrid Sultan dan penguasa yang berpengaruh.
1.
Peran Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo) sebagai
Mediator
Dengan posisi Al Jufri yang belum disadari
sebagai salah satu rakyat lokal, namun dikagumi dan dihormati, mereka sering
menjadi penengah (mediator) antara penguasa local dan colonial belanda yang
berkuasa pada abad ke-19. Anggota Al Jufri yang membawa peran sebagai mediator
dan juru bicara untuk seluruh keturunan Al Jufri di Jambi adalah Sayyid Idrus.
Dia mengisi posisi yang cukup unik ini dari tahun 1860an hingga dia meninggal
pada tahun 1902/1905.
Disamping mengizinkan Sayyid Idrus menikah
dengan putrinya, Sultan Nazaruddin memberikan Sayid Idrus gelar
Pangeran Wirokusumo. Gelar ini juga digunakan pada tahun 1853 sebagai anggota
“Kraton” (keluarga dari penguasa elit di istana Jambi) dan juga menandakan
sebagai “pepati dalam”, pejabat tinggi pemerintah yang memiliki tugas menggantikan
Sultan ketika tidak ada dan juga sekaligus sebagai pengawas istana.
Dokumen Belanda mencatat Pangeran Wiro Kusumo
memiliki kejeniusan berlindung dari partai-partai yang kuat. Ketika Sultan
Nazaruddin memegang kekuasaan formal, beliau berhasil membuat dirinya menjadi
wakil Sultan di ibukota. Hal ini dikarenakan Sultan hampir selalu memilih untuk
tinggal jauh dari ibukota (kota Jambi) untuk menjauhkan diri dari Belanda.
2.
Bukti Kekayaan dan Kekuatan Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran
Wirokusumo)
Evidence of Pangeran Wiro Kusumo’s Wealth and Power. Being married to
one of Sultan Nazaruddin’s daughters brought him tremendous power. When Sultan
Thaha expanded his influence in the last two decades of the 19th century,
Pangeran Wiro Kusumo ingratiated himself with him. He even managed to become a
relative of Sultan Thaha by marrying his son to Thaha’s daughter.
Ø In 1875 Sultan Nazaruddin and the pangeran ratu [crown
prince / prime minister] left this powerful dignitary [Pangeran Wiro Kusumo] to
manage all the affairs of the realm.
Ø He administered the salt monopoly revenue.
Ø He administered the opium monopoly revenue.
Ø He owned the largest lowland tracks of land (on the eastern
part of the Jambi Province) and had control of the lower Batanghari River, all
the way up to the Tungkal River.
Ø He was very powerful, but a Sultan? Blogs repeat oral
traditions as fact, indicating he was at one time a sultan. A local Jambi
newspaper also reported the same (last sentence of this article) as recent as 8
September 2011. The opinion that he was a sultan just doesn’t stack up to
documented evidence, like what can be found in the book; Mencari Jejak
Sangkala, the author being the honorable Jambi historian, Drs. H. Junaidi T.
Noor. Nor does it hold water when compared to the scholarly and thoroughly
documented book; Sumatran Sultanate and Colonial State. Quite to the contrary,
though he was an adviser to sultans, Pangeran Wiro Kusumo himself was never a
Sultan.
Ø Another act attributed to Pangeran Wiro Kusumo, which
needs further proof, was him building the Mosque Jami’ Al Ikhsaniyah. His
commitment to his religion is not in question, but for him to receive credit
for building this mosque would indicate he did it before his birth or shortly
thereafter.[15]
Dokumen Belanda mencatat Pangeran Wirokusumo memiliki kejeniusan
berlindung dari partai-partai yang kuat. Ketika Sultan Nazaruddin memegang
kekuasaan formal, beliau berhasil membuat dirinya menjadi wakil Sultan di
ibukota. Hal ini dikarenakan Sultan hampir selalu memilih untuk tinggal jauh
dari ibukota (kota Jambi) untuk menjauhkan diri dari Belanda.
Menikah dengan salah satu putri Sultan
Nazaruddin membawa Pangeran Wirokusumo kepada kekuasaan yang luar biasa. Ketika
Sultan Thaha memperluas pengaruhnya pada 2 (dua) dekade terakhir di abad 19.
Pangeran Wirokusumo mengambil hati Sultan Thaha. Dia bahkan berhasil menjadi
keluarga Sultan Thaha dengan cara menikahi putrinya dengan Sultan Thaha.
Pada tahun 1875 Sultan Nazaruddin dan Pangeran
Ratu (putra mahkota/perdana menteri) meninggalkan kekuasaannya kepada pejabat
tinggi pemerintahan (pangeran wirokusumo) untuk mengatur dan mengurus semua
urusan kerajaan.
a. Dia mengatur
pendapatan monopoli garam
b.
Dia mengatur pendapatan monopoli candu
c.
Dia memiliki dataran rendah yang luas (di
sebelah timur provinsi jambi)
d.
Dia mendirikan Masjid Jami Al Ikhsaniyah
3.
Rumah Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo)
Rumah Sayyid Idrus, yang dikenal sebagai Pangeran
Wirokusumo berlokasi di sisi utara Sungai Batanghari di Kota Jambi. Rumah
tersebut telah didaftar oleh Kantor Pariwisata Jambi sebagai tempat wisata,
namun situs wisata tersebut hanya sebagai referensi bagi observasi sejarah,
tidak dirancang khusus untuk rekreasi. Tanda di depan rumah merupakan nama
situs ini, yaitu
Rumah Batu Olak Kemang.
Rumah batu Olak
Kemang miliki Habib Idrus Al-Jufri, tampak dari samping.
Petugas jaga Balai Pelestarian
Cagar Budaya Jambi membersihkan tanaman di sekitar Rumah Batu Pangeran Wiro
Kusumo (Sayid Idrus bin Hasan Al-Jufri) di Olak Kemang, Danau Teluk, Jambi,
Selasa (21/10). Kondisi bangunan rumah dua lantai dengan arsitektur Arab,
Tiongkok dan Eropa peningggalan salah seorang penyebar agama Islam sekitar
tahun 1850-an di kawasan tersebut terancam rubuh karena
faktor alam seperti hujan.
ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/Rei/ama/14
Rumah batu Olak
Kemang miliki Habib Idrus Al-Jufri, bagian
gerbang.
Rumah batu Olak
Kemang miliki Habib Idrus Al-Jufri, rumah panggung bukti gaya arsitek lokal
(melayu)
Bentuk tiang penyangga rumah batu Olak Kemang miliki Habib
Idrus Al-Jufri bukti gaya arsitek Eropa
Bentuk relief rumah batu Olak Kemang miliki Habib
Idrus Al-Jufri, bukti gaya arsitek Cina
Rumah Batu Olak
Kemang di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Seberang Kota Jambi
(Sekoja), Kota Jambi, kini terkesan tak terawat. Padahal bangunan ini menyimpan
sejarah penting Kota Jambi. Bangunan berlantai dua ini merupakan cagar budaya
Kota Jambi, peninggalan seorang penyebar agama Islam di Sekoja pada abad ke-18,
Sayyid Idrus Hasan Al-Jufri, atau Pangeran Wiro Kusumo.
4.
Makam Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo)
Pangeran Wiro Kusumo (Sayyid Idrus) dimakamkan
dekat dengan tempat ia tinggal, berada dalam komplek masjid Jami Al Ikhsaniyah. Makam tersebut sangat ramai dikunjungi jelang Ramadhan.
Makam itu berada dalam sebuah ruangan. Di dalamya terdapat dua makam lain
selain makam Sayyid Idrus, yaitu makam anak cucunya yang tidak diketahui siapa
namanya. Dalam rangka menjaga makan dan menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan, saat ini makam Sayyid Idrus dikunci dengan gembok. Makam itu dapat
dibuka bila ada yang mengunjungi.
Tanda yang melekat pada bangunan kecil dimana
makamnya berada menunjukkan bahwa beliau meninggal pada tahun 1902. Dokumen
sejarah, “Kesultanan Sumatra dan Pendudukan Kolonial: Jambi dan kebangkitan
imperialism Belanda, 1830-1907” menunjukkan bahwa Pangeran Wiro Kusumo wafat
pada tahun 1905.
5. Kegiatan
ritual Haul Habib Idrus Al-Jufri (Pangeran Wirokusumo)
Berdasarkan
data dari TRIBUNJAMBI.COM. Pada hari ini, Sabtu,
22 Januari 2011 10:28, keluarga besar Habib Idrus
bin Hasan Al Jufri akan memperingati wafatnya (haul) ke 108 ulama dan pemimpin
Jambi, Habib Idrus bin Hasan Al- Jufri yang dipusatkan di Masjid Ihsaniyah di
Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Kota Jambi.
Acara ini mendapat perhatian banyak pihak, karena ketokohan
Habib Idrus bin Hasan Aljufri yang fenomenal. Puncaknya acara akan dilaksanakan
di Masjid Ihsaniyah mengingat di sini ada makam Habib Idrus atau Pengeran Wiro
Kusumo.
Abu
bakar Al-Jufri, Ketua Panitia acara Haul ke 108 Habib Idrus bin Hasan Al-jufri
mengatakan bahwa pada Jumat malam sedang dilakukan persiapan fasilitas dan
kelengkapan untuk acara pada hari sabtu. Sebelum acara inti, terlebih dahulu
dilakukan kegiatan tausyiah di daerah
Kampung Jawa, Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk.
Sebelum ke acara puncak yang diadakan di Masjid "Batu"
Ihsaniyah, rombongan para tokoh agama, alim ulama, cendikiawan, gubernur dan
undangan lainnya mampir ke rumah batu atau Rumah Radjo di kediaman Habib Salim
bin Abubakar Almuhdot di Olak Kemang.
3. Masjid
Batu Al-Ikhsaniyah, Masjid Tertua di Jambi
Masjid
al-Ikhsaniyah atau yang lebih dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama
Masjid Batu adalah Masjid tertua di kota Jambi, Provinsi Jambi. Masjid ini terletak
di seberang Kota Jambi yang dibelah sungai Batanghari, tepatnya Masjid ini
berada di Jalan KH. Ibrahim, RT 05 Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk
Kota Jambi. Bangunan masjid ini telah mengalami perluasan oleh pemerintah Belanda
semasa penjajahan dengan mempertahankan ciri ciri khas utamanya demi menjaga
nilai historis-nya.
Lokasi
Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi:
|
Masjid
Jami’ Al-Ikhsaniyah
Jalan
KH. Ibrahim, RT 05
Kelurahan
Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk
Kota
Jambi, Propinsi Jambi
Indonesia
Koordinat
geografi berada di : 1°35'7"S
103°36'8"E
|
Masjid
ini didirikan pada tahun 1880 oleh Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid
Idrus, seorang tokoh penyebar Islam di Jambi dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo,
beliau merupakan seorang ulama keturunan Yaman. Masjid Batu ini didirikan
Sayyid Idrus untuk memenuhi fungsi tempat ibadah bagi masyarakat seberang kota
Jambi. Masyarakat kota Jambi waktu itu yang sudah fanatik keislamannya
memanfaatkannya sebagai tempat ibadah dan kegiatan sosial lainnya.
Habib
Idrus bin Hasan Al Jufri wafat tahun 1902 dan dimakamkan di depan masjid
Ikhsaniyah yang didirikannya. Kini sekali dalam setahun keluarga besar beliau
menyelenggarakan peringatan wafatnya Habib Idrus bin Hasan Al Jufri yang
dipusatkan di masjid ini. peringatan tersebut di agendakan sekali dalam
setahun, oleh pihak keluarga dan masyarakat muslim Sekoja (seberang kota Jambi)
sebagai bentuk penghormatan atas jasa jasa beliau. Peringatan tersebut setiap
tahun turut juga dihadiri oleh tokoh agama, alim ulama, cendikiawan, gubernur
dan undangan lainnya.
Pada tahun-tahun awal
abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan
majunya pendidikan keislaman di Jambi yang ditandai dengan berdirinya empat
pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Saadad Daarain,
Pesantren Jauharain, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat kesadaran
keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan seberang kota
Jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar.
Keadaan ini tentu saja
berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah masjid itu semakin penuh hingga
akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak, terlebih pada
Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh masyarakat lalu menggelar musyawarah dan
bermufakat untuk memperbaharui masjid. Disepakati dana pembangunan masjid dikumpulkan
dari sedekah dan infaq masyarakat sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup
untuk memugar masjid. Saat itu tahun menunjukkan angka 1935.
Karena berada di bawah
kekuasaan kolonial Belanda. para tokoh masyarakat meminta izin kepada Belanda.
lalu masuklah permohonan pemugaran masjid ke pemerintah Belanda yang ada di
Jambi dengan menceritakan latar belakang dan sejarah berdirinya masjid.
Tahulah Belanda bahwa
Masjid Batu tersebut merupakan peninggalan Sayyid Idrus yang merupakan salah
seorang sultan Jambi yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo. Karena menganggap
bahwa masjid tersebut bernilai sejarah sebagai masjid sultan, tahun 1937 pihak
kolonial mengambil alih pembangunan masjid. Dana pun turun dari pihak kolonial
dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya
para tokoh masyarakat hanya perlu izin karena dana sudah tersedia. Jadilah dana
dari masyarakat itu tidak terpakai yang akhirnya digunakan untuk membuat pagar
mengelilingi masjid.
a. Sejarah berdirinya masjid Ikhsaniyyah
Untuk mengetahui sejarah berdirinya Masjid Al Ikhsaniyah, salah satunya
diketahui dari keturunan Sayyid Idrus, yaitu S. Salim Al-Jufri yang merupakan
generasi ke-7. Pengurus Masjid Al Ikhsaniyah dan pengurus makam Sayyid Idrus
adalah orang yang berbeda. Pengurus mesjid dipilih berdasarkan musyawarah
warga, sedangkan makam berdasarkan keturunan atau ahli waris. Di mana pengurus
makam Sayyid Idrus merupakan Juru Pelihara dari Balai Pelestarian Peninggalan
Purbakala (BP3) Jambi.
Berasal dari cerita turun menurun oleh orang-orang tua di keluarga
Salim, tanah Sayyid Idrus ada di Benteng yang sekarang menjadi Museum
Perjuangan Rakyat Jambi. Dari sanalah asal mula masjid tersebut. Saat itu
Belanda mendirikan Lapangan Benteng di sana, sehingga masjid dirobohkan.
Kemudian bahan atau sisa-sisa bangunan mesjid dibawa ke Pacinan (sekarang Olak
Kemang) yang menjadi asal muasal berdirinya Masjid Al-Ikhsaniyah. “Atas
inisiatif Sayyid Idrus lah mesjid ini berdiri di sini. Karena pada saat itu
Sayyid idrus adalah seorang Sultan.
Setelah jamaah yang datang semakin ramai akibat pesatnya perkembangan
umat Islam saat itu, maka pada 1937 direncanakan pembaruan mesjid yang
didirikan oleh Sultan Idrus. Karena dianggap masjid Sultan dan mempunyai nilai
sejarah, pemerintah Belanda yang berkuasa saat itu membantu pembangunan masjid
itu. Dengan kemufakatan ulama, maka masjid tersebut dinamakan Masjid Al
Ikhsaniyah. Pada gapura masjid tercantum dengan jelas saat selesainya masjid
tersebut yakni 27 Mei 1939.
Saat ini, di dalam masjid masih terdapat sebuah mimbar dan beduk yang
merupakan peninggalan terdahulu. Selain itu, makam Sayyid Idrus yang wafat pada
1902 M juga masih ada dan terawat di lingkungan masjid.
Masjid sebelum
dilakukan pemugaran
Masjid setelah diperbaiki
b. Ciri khas
Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi:
1) Bangunan
dalam Masjid dipenuhi dengan hiasan kaligrafi berbagai rupa. Mimbar asli
berdiri anggun di sisi kanan mihrab. Sementara beduk peninggalan terdahulu
berada di bagian belakang ruang salat. Ciri mencolok dari Mesjid ini adalah
banyaknya jendela. Jendela-jendela yang dipasang berpasangan itu mengelilingi
Mesjid. Hanya tembok mihrab yang tak berjendela.
2) Hingga kini,
kebisaaan dan adat istiadat yang dilakukan Pangeran Wiro Kusumo semasa hidup
masih dilakukan keturunan dan pengikutnya. Salah satunya adalah menyantap makan
dalam tempeh (wadah besar) ramai-ramai.
Tradisi seperti itu memang merupakan salah satu tradisi para ulama yang berasal
dari Yaman yang kemudian berkembang di tanah air. Tadisi yang sama dapat juga
dijumpai di masjid-masjid tua lainnya di tanah air seperti di Masjid Sultan
Palembang ataupun Masjid Al-Hawi di Condet – Jakarta.
3) Tradisi
Sumpah di Masjid Jami’ Al-Ikhsaniyah Jambi. Sekitar tahun 60-an, Masjid
Ikhsaniyah merupakan tempat orang menyelesaikan sengketa. Jika ada orang
berselisih perihal kepemilikan tanah, tuduhan mencuri, dan lain sebagainya orang
akan membawa perkara itu ke Mesjid dan mengambil sumpah dengan disaksikan para
pendudk dan pemuka agama.
Masjid ini
diyakini memiliki keramat tersendiri karena jika ada yang berani bersumpah
palsu di dalamnya, maka dia akan mengalami bala atau hal lainnya. Karenanyalah,
pada masa itu Mesjid Batu amat masyhur dan tak ada seorang pun yang berani
mengambil risiko bersumpah palsu di dalamnya. Banyak orang-orang yang berdusta
yang awalnya berani bersumpah di dalamnya. Namun, setelah sampai mereka tak
berani dan mengakui perbuatannya. Jika ada yang bersalah dan tak mengakui
perbuatannya sampai diambil sumpahnya, orang itu akan menggelepar tak sadarkan
diri. Dan jika ia sudah sadar biasanya orang yang bersalah itu akan mengakui
perbuatannya.
4) Di
tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini
seiring dengan majunya pendidikan keislaman di Jambi yang ditandai dengan
berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren
Saadatuddarein, Pesantren Jauharein, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini
membuat kesadaran keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan
seberang kota Jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar.
Keadaan ini
tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah Masjid itu semakin
penuh hingga akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak,
terlebih pada Salat Jumat. Maka tokoh-tokoh masyarakat lalu menggelar
musyawarah dan bermufakat untuk memperbaharui Mesjid. Disepakati dana
pembangunan Mesjid dikumpulkan dari sedekah dan infaq masyarakat sampai
akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk memugar Mesjid pad tahun 1935.
[1] Kesultanan Jambi Dalam Konteks Sejarah
Nusantara, (Kerjasama Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Diklat
kementerian Agama RI dengan Fakultas Adab IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Tahun 2013), hal. 3
[2] Kesultanan Jambi Dalam Konteks Sejarah
Nusantara, (Kerjasama Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Diklat
Kementerian Agama RI dengan Fakultas Adab IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Tahun 2013), hal. 3
[3] Benard H. M
Vlekke, Nusantara Sejarah Nusantara
(Jakarta: KPG, Freedom Institute, dan Balai Pustaka, 2008), hal. 183
[4] Azyrumardi
Azra, “tradisi Politik Kesultanan Melayu
Nusantara”, dalam bukunya, Reanisans
Islam Asia Tenggara: Sejarah, Wacana Kekuasaan (Bandung: Rosda Karya,
1999), hal. 89
[5] Antony Reid, Dari Ekspanasi Hingga Krisis: Jaringan
Perdagangan Global Asia Tenggara 1450-1680 (Jakarta: YOI, 1999), hal. 179
[6] Azyrumardi
Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan
kepulauan Nusantara Abad XVIII: Melacak Aka-akar Pembaharuan Pemikiran Islam di
Indonesia (Bandung: Mizan, 1994), hal. 42
[7] Kesultanan Jambi Dalam Konteks Sejarah
Nusantara, (Kerjasama Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan dan Diklat
Kementerian Agama RI dengan Fakultas Adab IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
Tahun 2013), hal. 115
[8] Elbeth
Locher-Scholten, “Kesultanan Sumatra dan
Negara Kolonial, Hubungan Jambi-Batavia (1830-1907) dan Bangkitnya Imperialisme
Belanda, (Jakarta: banana 2008), hal. 164
[9] Kesultanan jambi Dalam Konteks Sejarah Nusantara, (Kerjasam Puslitbang Lektur dan
Khazanah Keagamaan dan Diklat Kementerian Agama RI dengan Fakultas Adab IAIN
Sulthan Thaha Saifuddin Jambi Tahun 2013),
hal. 117.
[10] Elsbeth
Locher-scholten, Kesultanan Sumatra dan
Negara Kolonial. (Jakarta: Banana, 2008),
hal. 166
[11] Elsbeth
Locher-scholten, Kesultanan Sumatra dan
Negara Kolonial. (Jakarta: Banana, 2008),
hal. 164
[12] L. W. C. Van
Den Berg, Le Hadramouth Et Les Colonies Arabes Dans I’archipel Indien (Batavia
Imprimerie Du gouvernement, 1886), yang di kutip oleh Elbeth, hal. 164
[13] Elsbeth
Locher-scholten, Kesultanan Sumatra dan
Negara Kolonial. (Jakarta: Banana, 2008),
hal. 164
[14] Elsbeth
Locher-scholten, Kesultanan Sumatra dan
Negara Kolonial. (Jakarta: Banana, 2008),
hal. 164
Tidak ada komentar:
Posting Komentar